![]() |
| Anggota DPRD Provinsi Jambi, Eka Marlina, foto : Ist |
TEBONETIZEN.COM, - Sorotan tajam kembali mengarah ke buruknya infrastruktur di Provinsi Jambi. Kali ini, suara lantang datang dari Anggota DPRD Provinsi Jambi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Eka Madjid Muaz.
Ia secara terbuka membongkar kondisi memprihatinkan Jalan Padang Lamo di Kabupaten Tebo. Jalan vital itu kini rusak parah dan memperparah penderitaan masyarakat.
Dalam momentum Rapat Paripurna yang digelar Rabu (8/4/2026), Eka Madjid Muaz tak tinggal diam. Ia menggunakan hak interupsi sebagai bentuk kegelisahan sekaligus tekanan langsung kepada pemerintah provinsi. Dengan nada tegas dan lugas, ia menegaskan persoalan ini bukan lagi wacana. Jalan Padang Lamo adalah masalah mendesak yang tak bisa ditunda.
"Terbilang urgen dan prioritas, 2027 nanti anggaran jalan padang lamo, kami minta dimasukkan ke pagu indikatif. Itu menjadi tugas penting buat bapak Gubernur Jambi yang kami sampaikan!," ujar Eka.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sebagai wakil rakyat yang rutin turun ke lapangan, Eka Madjid Muaz menyerap langsung keluhan masyarakat. Ia mendengar kritik, saran, hingga jeritan warga yang terdampak. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama justru berubah menjadi hambatan serius dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan, Jalan Padang Lamo bukan sekadar jalur biasa. Jalan ini adalah urat nadi perekonomian masyarakat sekitar. Namun ironisnya, kondisi saat ini justru menghambat aktivitas. Dampaknya terasa pada distribusi, mobilitas, hingga beban hidup warga.
"Jalan ini dikenal sebagai urat nadi perekonomian masyarakat sekitar, namun kondisinya sangat menghambat aktivitas," ungkap Eka
Fakta di lapangan tak bisa lagi ditutup-tutupi. Infrastruktur Jalan Padang Lamo kini viral dan menjadi sorotan publik luas. Kerusakan parah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan. Kondisi ini terus memicu kekecewaan masyarakat.
Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Perbaikan yang dijanjikan selama ini tak kunjung terealisasi secara maksimal. Masyarakat menilai janji tersebut hanya menjadi retorika yang terus berulang. Sementara kondisi jalan tetap dibiarkan memprihatinkan.
Gelombang protes warga menjadi bukti nyata bahwa kesabaran sudah di batas akhir. Jalan yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi justru menjadi penghambat. Situasi ini memperlihatkan adanya ketimpangan antara janji dan realisasi. Tekanan publik pun semakin kuat.
Urgensi perbaikan Jalan Padang Lamo kini tidak bisa ditawar lagi. Jalan ini tetap menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Namun dalam kondisi saat ini, justru menjadi penghambat aktivitas yang serius. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.
Masyarakat kini tidak lagi sekadar berharap, tetapi menuntut. Mereka menginginkan langkah nyata, bukan janji berulang. Pemerintah Provinsi Jambi dan pihak terkait didesak segera bertindak. Perbaikan jalan ini harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar wacana. (Red-TN)
