![]() |
| Alat mesin Grading otomatis TBS di PT SKU Desa Betung Bedarah Barat, foto : Ist |
TEBONETIZEN.COM, - Rencana penerapan mesin grading otomatis Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit oleh PT Satya Kisma Usaha (SKU) di Desa Betung Bedarah Barat, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, memicu penolakan dari masyarakat setempat.
Sejumlah warga menilai kebijakan tersebut bukan sekadar langkah modernisasi, melainkan berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap petani kecil dan tenaga kerja lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor sawit.
Salah satu warga Desa Betung Bedarah Barat menyampaikan bahwa masyarakat meminta perusahaan mengurungkan penggunaan alat grading berbasis sensor dan tetap mempertahankan sistem sortasi manual.
“Kami berharap perusahaan mempertimbangkan kembali kebijakan ini. Jangan sampai penggunaan teknologi justru mempersempit ruang hidup petani dan pekerja,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, sistem grading otomatis dinilai menerapkan standar penilaian yang lebih ketat. Buah sawit yang sebelumnya masih dapat diterima berpotensi ditolak karena tidak memenuhi parameter mesin, termasuk soal tingkat kematangan dan jumlah brondolan.
Ia mengkhawatirkan, jika kebijakan tersebut diberlakukan penuh, hasil panen petani rakyat akan semakin sulit terserap pabrik. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak langsung pada pendapatan petani.
“Kalau banyak buah ditolak, otomatis petani yang paling merasakan dampaknya,” katanya.
Selain persoalan penyerapan hasil panen, warga juga menyoroti potensi pengurangan tenaga kerja. Selama ini, proses penyortiran TBS melibatkan pekerja lokal. Dengan sistem otomatis, kebutuhan tenaga di bagian sortasi disebut berpeluang berkurang.
“Selama ini ada masyarakat yang bekerja di bagian sortasi. Kalau diganti mesin, tentu jumlah pekerja bisa berkurang,” tambahnya.
Warga berharap perusahaan membuka ruang dialog sebelum kebijakan tersebut dijalankan secara penuh. Mereka meminta adanya kajian menyeluruh, termasuk dampak sosial dan ekonomi terhadap masyarakat sekitar perusahaan.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Betung Bedarah Barat, Kuspandi, meminta pihak perusahaan untuk meninjau ulang rencana penerapan mesin grading otomatis tersebut.
“Kami meminta agar kebijakan ini dikaji kembali dengan mempertimbangkan kondisi petani kecil dan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa siap memfasilitasi pertemuan antara masyarakat dan perusahaan agar tercapai solusi yang tidak merugikan salah satu pihak.
Menurutnya, modernisasi di sektor perkebunan memang tidak dapat dihindari, namun tetap harus memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan keberlanjutan masyarakat desa. (Red-TN)
